'cookieChoices = {};'

Meretas Mitos Agama vs Sains

Meretas Mitos Agama vs Sains

Gambar  : pottedlid.wordpress.com

Minggu lalu, saya menyelesaikan sebuah buku berjudul the God delusion yang di tulis oleh Richard Dawksin, seorang ilmuwan biologi pengikut Darwinian dari universiti Oxford, juga dikenal sebagai intelektual atheis yang suka mengkritik agama dan ketuhanan. Di setiap karyanya, ada kurang lebih tiga buku Richard Dawkisn yang saya baca, mulai dari Selfish Gene, The Greatest Show on the Earth, The Magic of Reality, dan terakhir adalah the God delusion. Semuanya mengagungkan sains lebih besar daripada agama dan ketuhanan itu sendiri.

Bahkan Dalam buku the God dlusion dijelaskan, bahwa paham-paham tentang ketuhanan sebenarnya adalah delusi massal umat manusia Dan agama sebagai ruang tempat ketuhanan berada selalu memberikan masalah bagi peradaban manusia, maka Richard Dawksin berkata jika cukup dengan sainslah manusia bisa membangun peradaban yang lebih baik.

Pendapat dari intelektual atheis seperti Dawkins ini kemudian ditelan bulat-bulat orang banyak, terutama mereka yang kontra atau melawan apa pun yang berkaitan dengan  agama secara dogmatis tanpa mengambil ruang kritis.

Namun, di satu sisi kaum agama pun mengembangkan teks-teks tafsir yang mengharamkan sains. Bahkan puncak daripada pengharaman akhirnya mengantarkan eropa memasuki abad kegelapan saat di mana gereja menjadi pengendali sains. Yang lebih ironis apa yang terjadi terhadap peradaban kristen juga di alami oleh peradaban islam pasca hancurnya entitas politik. Umat islam menjadi banyak negara-bangsa bahkan kini di abak modern ini, berkembangnya paham Islam ekstrimis yang seringkali mengharamkan sains atas nama bidah. Akhirnya pertarungan sains vs agama menjadi masalah yang tak terselesaikan, sehingga memunculkan pertanyaan, apakah benar jika keduanya tidak bisa selaras?

Sebenarnya jika membicarakan agama vs sains saya jadi teringat dengan nasihat “Ilmu tanpa agama itu lumpuh, agama tanpa ilmu itu besar”, yang mana itu  adalah salah satu kutipan populer di kalangan para intelektual dan menjadi bahan diskusi, dan dibahas tanpa ujung.  Kutipan itu dikeluarkan dari esai Einstein berjudul Sains and Religion yang diterbitkan tahun 1954.
Meskipun agama mungkin adalah yang menentukan tujuan, namun bagaimanapun proses mencapai  tujuan tersebut tetap dan harus dengan sains.

Dan perlu juga diingat sebenarnya sains pada dasarnya hanya dapat diciptakan oleh mereka yang sepenuhnya diilhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman.  Sumber perasaan ini, bagaimanapun, berasal dari bidang agama atau katakanlah sisi spiritual. Terhadap hal ini juga terdapat keyakinan pada kemungkinan bahwa peraturan yang berlaku bagi dunia keberadaan adalah rasional, yaitu dapat dipahami dengan alasan.

Saya tidak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa iman yang mendalam ini.  Situasinya dapat diekspresikan oleh sebuah gambar: Sains tanpa agama timpang, agama tanpa sains buta. Lantas apa contoh nyata dari ‘sains tanpa agama menjadi lumpuh, agama tanpa sains menjadi sangat besar’.

Sains  Tanpa Agama Lumpuh

Benar!  Sebab banyak sekali pengetahuan ilmiah yang dihasilkan dari pengamatan, penyelidikan, investigasi, atau percobaan-percobaan yang dilakukan karena terinspirasi atau karena rasa penasaran terhadap klaim-klaim agama, seperti:

Ilmu Kosmologi fisika dan, lebih khusus lagi, astrobiologi.  Sebuah cabang ilmu yang membahas tentang eksplorasi, pengamatan, atau penelitian tentang sejarah alam semesta dan pencarian kehidupan di luar bumi. Jika dibandingkan dengan manfaatnya bagi manusia, maka biaya yang dikeluarkan untuk ilmu ini semakin besar.

Untuk apa?  Untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia tentang asal-usul alam semesta. Kehidupan, dan manusia, bahkan intektual yang mengaku dirinya tidak percaya tuhan, seperti Stephen Hawking, Richard dakwisn, Daniel Bennet, Lawrance Krauss, dan lain-lain, sebenarnya berangkat daripada pertanyaan yang bersifat ketuhanan.

Jadi, dalam perspektif kosmologi-fisika dan astrobiologi ini, klaim agama tentang Tuhan juga cara kerja-Nya telah menjadi ‘energi penggerak’ yang  mendorong munculnya  pertanyaan-pertanyaan ilmiah.

Bayangkan jika tidak ada klaim agama tentang Tuhan, asal-usul bumi dan langit bersama isinya, boleh jadi kosmologi dan astrobiologi, bahkan astronomi pun hanya akan ‘berjalan di tempat’ alias lumpuh, bahkan ilmu jiwa pun tak akan ada jika teks-teks agama tidak hadir memberikan misteri jiwa manusia.

Agama Tanpa Sains Buta

Ini juga sangat benar!  Sebab, banyak sekali klaim agama yang otoritatif, tetapi sangat naif dan sulit dipahami makna dan gunanya secara kontekstual. Contoh:

Larangan atau pengharaman mengonsumsi makanan/ minuman tertentu.  Agama hanya mengeluarkan larangan tetapi tidak ada penjelasan. Sains, dengan metode ilmiahnya, berhasil mengungkap banyak rahasia dibalik larangan-larangan tersebut. Misalnya, larangan mengonsumsi darah dan bangkai hewan. Ilmu kesehatan mengungkapkan bahwa darah adalah tempat berbagai kuman dan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Demikian juga bangkai. Pada bangkai, kuman seperti bakteri dan jamur menyebabkan penyakit sangat mudah tumbuh dan berkembang biak.  Mengonsumsi bangkai berarti mengonsumsi beragam jenis kuman yang menimbulkan penyakit yang bisa menimbulkan kematian.

Jadi, dengan memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh oleh sains, apa-apa yang disetujui atau disetujui agama, menjadi terbuka dan terang-benderang.  Di sinilah peran sains sebagai pembuka mata bagi penganut agama agar tidak selalu terpejam. Jadi,  dari sini Saya meyakini agama tidak bertentangan dengan sains, dan saya juga meyakini sains (termasuk yg dari positivisme) bukan musuh agama. Namun cara kerja “menghasilkan pengetahuan” dari sains dan dari agama punya perbedaan. Dan dengan demikian, bila hasil dari sains tidak cocok dengan agama, bukan berarti keduanya bermusuhan.

Agama sebagai perintah Tuhan mempunyai kebenarannya yang  mutlak, namun agama dalam arti bagaimana cara manusia memahami/ menafsirkan perintah-Nya bisa saja salah. Dan pengetahuan yangg lahir dari agama, sebagian didapat melalui penafsiran itu tadi.

Sains sebagai produk rasio dan indera manusia, juga boleh jadi salah. Karena itu sains terus berkembang. Bahkan ada ungkapan jenaka yangg mengatakan bahwa ilmuan (saintis) boleh salah tapi tak boleh bohong. Jadi, sains sekarang menjadi antitesis atau bahkan menjadikan sains terdahulu menjadi “mansukh” itu biasa. Dan ilmuan dituntut kejujuran akademis sebagai bagian bahwa sains bisa salah merupakan kewajaran.

Sama halnya dengan puasa dan kesehatan. Ditinjau dari sains, boleh terbukti dan boleh tidak. Penemuan awal boleh jadi ditentang oleh penemuan berikutnya, dan penemuan terbaru ini nanti bisa jadi juga akan ditentang penemuan yang lebih baru. Karena sifat teori sains yang sewaktu-waktu dapat terbantahkan, maka jelas tidak tepat dan elok bagi agama untuk memaksakan ayat-ayat agama tertentu selesai dengan penelitian sains terbaru.

Lalu pertanyaan selanjutnya, jika agama dan sains selaras maka patutnya agama tidak lagi terjebak pada statusnya yang tidak dapat dipertanyakan dan hanya di yakini, dan tuhan harusnya ditempatkan dalam objek yang ilmiah untuk membuktikan keberadaannya, namun apakah ini tepat dan bagaimana solusinya?

Pertama sekali Solusinya harus dimulai daripada memahami Filsafat Ketuhanan, yaitu pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Filsafat ketuhanan di kembangkan oleh orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), dengan  menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya.
Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, tetapi mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.

Penelaahan tentang Allah dalam filsafat lazimnya disebut teologi filosofi. Hal ini bukan menyelidiki tentang Allah sebagai objek, tetapi eksistensi alam semesta, yakni makhluk yang diciptakan, sebab Allah dipandang semata-mata sebagai kausa pertama, tetapi bukan pada diri-Nya sendiri. Allah sebenarnya bukan materi ilmu, bukan pula pada teori.

Jadi pemahaman Allah di dalam agama harus dipisahkan Allah dalam filsafat. Namun pendapat ini ditolak oleh para agamawan, sebab dapat menimbulkan kekacauan berpikir pada orang beriman. Maka ditempuhlah cara ilmiah untuk membedakan dari teologi dengan menyejajarkan filsafat ketuhanan dengan filsafat lainnya (Filsafat manusia, filsafat alam dll). Maka para filsuf mendefinisikannya sebagai usaha yang dilakukan untuk menilai dengan lebih baik, dan secara reflektif, realitas tertinggi yang dinamakan Allah itu, ide dan gambaran Allah melalui sekitar diri kita.
Ide tentang Allah pada orang beragama secara umum biasanya dijelaskan dalam tabiat Allah; “Yang Maha Tinggi” (Anselmus mengatakan: “Allah adalah sesuatu yang lebih besar, dari padanya tidak dapat dipikirkan manusia), Yang Maha Besar, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Baik dan sebagainya. Menurut Anselmus, ajaran-ajaran kristiani bisa dikembangkan dengan rasional, jadi tanpa bantuan otoritas lain (Kitab Suci, wahyu, ajaran Bapa Gereja).

Bahkan ia bisa menjelaskan eksistensi Allah dengan suatu argumen yang bisa diterima bahkan juga oleh mereka yang tidak beriman. Eksistensi Allah dimulai dari pikiran manusia yang menerima begitu saja ajaran agama, tetapi juga menanyakannya dari siapa dan mengapa dirinya ada, alam alam, dan Allah sendiri bisa diterima adanya.

Beberapa sikap orang beriman dalam mencari pencerahan akan adanya Allah:

- Manusia yang menerima begitu saja dikarenakan ajaran turun-temurun dari para pendahulunya, manusia ditekankan harus percaya, bahkan tanpa bertanya.
- Manusia mulai bertanya mengapa dirinya ada? Mengapa alam ada?
- Kemudian menanyakan Allah terkait; siapa, isinya, dan mengapa Dia ada?
Semua jawaban itu akan dijawab oleh para ahli dalam bidang yang disebut teologi; theos dan logos, ilmu tentang hubungan manusia dan ciptaan dengan Allah. Jawaban-jawabannya bisa sangat beragam, tergantung agama dan kepercayaan yang mana yang memberikan jawaban. Namun setidaknya ada beberapa kesimpulan yang mereka berikan sebagai jawaban:
Allah ada dan ada-Nya dapat dibuktikan secara rasional, Allah ada tetapi tidak dapat dibuktikan ada-Nya, tidak dapat diketahui apakah Allah benar-benar ada,  Allah tidak ada dan ketentuan ini dapat dibuktikan juga.

Oleh karena itu filsafat berusaha membuktikan keyakinan-keyakinan manusia itu melalui berbagai jalan; metafisika, empirisme, rasionalisme, positivisme, spiritualisme dll. Teisme adalah paham yang mempercayai adanya Tuhan. Berasal dari bahasa Yunani Θεός=Teos dan νόμος=hukum=aturan=paham, jadi sebuah aturan atau paham tentang Tuhan atau pengakuan adanya Tuhan.

Deisme adalah pandangan khas tentang Allah di masa Pencerahan, berasal dari deus yang artinya Allah. Namun pandangan ini berbeda dengan teisme, sebab Allah dipercaya hanya pada waktu penciptaan, selanjutnya tidak berhubungan dengan dunia lagi karena dunia yang sudah teratur dari semula. Allah dianalogikan seperti pencipta arloji yang bisa berjalan sangat teratur tanpa campur tangan penciptanya. Jadi Deisme hanya percaya Tuhan pertama kali, setelah itu dianggap tidak ada. Paham ini dianggap sebagai benih dari munculnya pandangan ateisme yang secara terbuka menyangkal adanya Tuhan. Pandangan yang muncul pada abad 18 di Prancis.

Agnostisisme adalah paham manusia yang tidak mau tahu atau tidak tahu tentang adanya Tuhan. Namun hal ini lebih disebabkan karena kebuntuan pemikiran untuk mendefinisikan Tuhan. Bagi para filsuf ini, Tuhan di berada di luar Jangkauan pemikiran manusia.

Ateisme berari penyangkalan adanya Allah. Namun arti tentang Allah yang disangkal adanya, tidak sama dengan pandagan semua orang, oleh karenanya arti ateisme berbeda-beda juga. Lima model ateisme yang diuraikan Franz Magnis Suseno adalah ateisme dalam diri Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud dan Jean Paul Sartre.

Saintisme, sesuai dengan dogma rasionalis, memandang inteligensi manusia sebagai ukuran seluruh inteligibilitas, saintisme membatasi rasionalisme sendiri dalam batas-batas pengetahuan saja, sehingga roh manusia sendiri direduksi sampai dimensi ilmiah saja. Segala sesuatu dipandang sebagai objek yang dapat diukur, bahkan subjek pada akhirnya nanti dibendakan juga. Maka pada akhirnya saintisme menolak metafisika, sehingga apa yang dipikirkan secara metafisik dibendakan begitu saja, dan ini adalah bentuk ateisme. Problem lebih lanjut adalah saintisme melawan pemikiran agama dan iman. Hal ini terjadi pada masa Galilei yang mengemukakan tentang bumi yang diistilahkan geo-sentris. Hal lain yang kemudian muncul juga pada Charles Darwin dengan teori evolusi yang menyangkal kisah penciptaan manusia dalam naskah Alkitab.

Jadi mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat didefinisikan, lalu menjadi tidak dapat didiskusikan dan kemudian membentuk argument sains dan agama pernah selaras adalah tidaklah tepat. Apalagi menerima secara buta  perkataan  tuhan sudah mati  atas nama modernisme.

Hal ini pun patut saya luruskan karena Pernyataan Nietzsche (ahli filosof Jerman) ini bukan dimaksudkan bahwa membenci tuhan, tetapi dimaksudkan untuk  menunjukkan bahwa ajaran-ajaran agama tidak lagi menjadi anutan orang-orang yang beragama pada masa itu. Pernyataan beragama hanya sebatas ungkapan saja sedangkan ajaran-ajaran agama itu telah hilang dalam akal dan tingkah laku penganutnya. Kurang lebih sama seperti Karl Marx ketika dia berkata “Agama adalah candu”.
Seperti halnya Marx, Nietzsche melihat bahwa orang-orang yang mengaku beragama, bahkan dengan gencarnya menyorakkan ajaran-ajaran agama, sebenarnya mereka telah menjadi ateism atau agnostism. Ajaran-ajaran agama telah dicampurbaurkan dengan kepentingan politik, ajaran-ajarannya bertentangan dengan realitas, tidak sesuai dengan sains dan agama malah menjadi sumber pertumpahan darah dan perang. Sehingga agama yang seharusnya membimbing manusia untuk menuju kesejahteraan, bermoral dan beradab telah berganti menjadi beban bagi pemeluknya.
Sebenarnya ini juga terjadi pada Islam. Di antaranya  yang membuat saya ‘geli’ tidak sedikit kita temukan syiar-syiar Islam itu telah beralih fungsi menjadi media lawakan. Orang datang ke forum dakwah Islam tidak lagi untuk memperdalam dan mempertegas keislamannya, tetapi lebih pada untuk mendengar lawakan-lawakan yang membuat para pendengar tertawa terbahak-bahak. Sains pun terkadang menjadi semacam lawakan saat intelektual yang mengaku dirinya penguasa sains melahirkan banyak teori yang  justru mengabdi pada kekuasaan Yang menindas dan implementasi dari teori sains mereka terkadang  terlepas daripada penderitaan rakyat dan alam.

Oleh: Mansurni Abadi

COMMENTS

Name

BANDONGAN,42,FABEL,17,HIKAYAT,34,Impresi,10,Kajian,13,Maklumat,10,Ngaji Jumat,21,PUISI,128,Risalah,9,SOROGAN,180,ULASAN,1,
ltr
item
wacanbuku: Meretas Mitos Agama vs Sains
Meretas Mitos Agama vs Sains
Meretas Mitos Agama vs Sains
https://1.bp.blogspot.com/-ZvFYaG7Eopc/XfpmMLkl9MI/AAAAAAAAKu8/i_va3YOCtr0m_FBNwSRyBTjch23t4cxLACLcBGAsYHQ/s320/WhatsApp%2BImage%2B2019-12-19%2Bat%2B00.41.15.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-ZvFYaG7Eopc/XfpmMLkl9MI/AAAAAAAAKu8/i_va3YOCtr0m_FBNwSRyBTjch23t4cxLACLcBGAsYHQ/s72-c/WhatsApp%2BImage%2B2019-12-19%2Bat%2B00.41.15.jpeg
wacanbuku
http://www.wacanbuku.com/2019/12/meretas-mitos-agama-vs-sains.html
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/2019/12/meretas-mitos-agama-vs-sains.html
true
7620921742776894578
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy