'cookieChoices = {};'

Cairan Politik

Cairan Politik

Gambar: thearabweekly.com

Cerpen
:
Nugrahanto

Rasyo berjalan dengan langkah lemas dan kepala menunduk. Sesekali tangannya perlahan mengusap alisnya dengan jari tengah dan telunjuk tangannya. Kerut mukanya menunjukan dengan jelas sekali bahwa ada banyak persoalan yang sedang dipikirkan, tetapi sebisa mungkin dia tetap berusaha untuk tidak menunjukannya kepada orang lain.

“Kapan cair, Bos?” Ungkap Joko menyapanya saat menjumpainya di pertigaan jalan.
Rasyo langsung  reflek menatap Joko dengan dada tegap dan senyum sumringah sembari menjawab dengan nada serta wajah yang meyakinkan.

“Tenang, tidak usah khawatir. Yang pasti aman”.

“Siap, Bos. Saya dan keluarga total ada enam orang.”

Rasyo tersenyum seraya menepuk pundaknya, lalu melangkah pergi meninggalkan Joko.
Rasyo sebenarnya sudah melawati jalan gang yang sempit menuju rumahnya untuk menghindari bertemu dengan banyak warga. Selama beberapa hari ini banyak sekali warga yang menemuinya atau tidak sengaja bertemu di jalanan dan tempat-tempat yang memungkinkan dengan pertanyaan yang pada intinya sama saja; kapan cair? Kapan dibagikan? Kapan keluarga saya akan menikmatinya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat dirinya merasa tidak tenang. Namun hari ini usahanya sudah cukup lumayan, karena hanya Joko saja yang menjumpainya dengan tanpa sengaja. Biasanya sehari bisa bisa lima belas sampai dua puluh orang yang dilayaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya nyaris putus asa.

Sesampainya di halaman rumahnya, belum sempat memegang gagang pintu rumah, Rasyo dikagetkan dengan teriakan-teriakan yang memanggil-manggil dirinya.

“Bos, Bos, saya jangan dilewatkan. Saya sudah mengikuti arahanmu.” Suraji berteriak dari atas motornya yang melintas di depan rumahnya.

Rasyo hanya tersenyum sambil mengangkat jempolnya sambil melihat Suraji yang perlahan menjauh dan menghilang.

Menjelang pesta demokrasi seperti sekarang ini masyarakat menanggapinya dengan antusias. Bagi masyarakat Desa Gedong, pesta demokrasi atau momentum politik pasti aka mendapatkan apa yang mereka sebut dengan Cairan Politik. Masyarakat Desa Gedong  yang  kebanyakan  memiliki latar belakang  pendidikan yang rendah sudah terbiasa dengan Politik Uang. Sepertinya tradisi politik uang seperti ini dimulai dari zaman orde baru, dimana sosok yang dapat mengisi jabatan-jabatan penting harus mengeluarkan uang pribadi terlebih dahulu. Jabatan pada posisi strategis biasanya  diisi oleh kalangan yang  memiliki cukup ekonomi atau paling tidak memiliki keluarga dengan jabatan yang penting. Anak yang lahir dari orang tua yang memiliki jabatan penting di pemerintahan berpotensi besar mengisi posisi di sana.

Presiden pertama, Bung Karno, pernah berpesan, “Bercita-citalah setinggi langit, jika nanti kau jatuh maka akan jatuh diantara bintang-bintang”. Nasihat indah itu tidak akan bisa diterapkan oleh warga Desa Gedong yang rata-rata sebagai petani yang tertinggal, pendidikan maupun teknologi.

Jangankan untuk mengejar cita-citanya setinggi langit, untuk makan saja mereka masih sulit. Tentunya mereka tidak akan bisa mengejar, untuk berjalan saja mereka lemas jika dalam kondisi perut yang lapar.” Itulah unkapan lelucon mereka. Bagi masyarakat desa Gedong sepertinya berfikir realistis lebih disukai daripada berimajinasi dengan mimpinya. Mungkin ini yang menyebabkan mereka bersikap pragmatis jika menghadapi situasi politik, menjadi orang yang bekerja di ladang dan kebunnya terlihat lebih bagus, karena dapat menghasilkan uang yang dapat digunakan untuk makan. Bekerja lebih bagus dibandingkan harus menuntut ilmu yang tinggi-tinggi namun tidak bekerja.

“Jangankan menuntut ilmu sampai Cina, sampai Kota saja kita tidak mampu.” Celoteh Suraji ketika berada di Pos Kampling yang membuat warga lain tertawa.

Paijo selaku ketua RT  juga tidak kalah membalas Suraji. “Lho, orang seperti kamu kok menuntut ilmu, Ji. Belum sampai menuntut ke pengadilan motormu sudah mogok di tengah jalan... Hahaha”.
Suasana di Pos Kampling menjadi pecah dengan tawa warga. Mereka tertawa sambil melihat motor butut si Suraji yang terparkir di depan mereka. Suraji tidak kalah akal langsung membalas.

“Hahaha... Pak RT ini contoh orang jahat. Ilmu itu tidak salah apa-apa kok dituntut ke pengadilan.”
Paijo tidak bisa membalas lagi jawaban Suraji, ia hanya ikut tertawa karena lelucon itu memang benar. Tidak ada hiburan yang menarik ketika malam hari di Desa terpencil serta  jauh dari keramaian itu. Selain televisi, hanya Pos Kampling tempat mereka bersilaturahmi dan bersenda-gurau. Pos Kampling menjadi ruang demokrasi yang bisa membahas berbagai macam hal dari masalah pribadi, keluarga, sampai masalah bumi datar. Pos Kampling menjadi tempat pelarian warga mencari hiburan ketika malam hari, setelah mereka lelah bekerja di ladang atau kebun seharian.

Istilah ‘Cairan Politik’ di masyarakat Desa itu merujuk pada cairnya uang atau megalirnya uang dari  kandidat yang mencalonkan diri melalui pemilihan umum. Baik itu pemilihan yang terkecil sekelas kepala desa, sampai pemilihan di tataran wakil rakyat dan bupati. Rasyo menjadi orang yang paling berpengaruh di Desa Gedong. Jabatanya yang sebagai ketua RT sering bersinggungan dengan warga, menjadikan sosoknya banyak dikenal oleh warga. Menjadi Ketua RT dan perangkat desa adalah jabatan yang sering menjadi hujat-hujatan rakyat.

Apa yang merka lakukan selalu menjadi kritikan masyarakat, seperti guyonan Suraji  di Pos Kampling.

“Menjadi perangkat di desa itu berarti menjadi ujung tombak dan ujung tombok.”
Bagaimana tidak menjadi ujung tombak, jika ada usulan kegiatan dari pemerintah pusat atau daerah para perangkat seperti Kadus (kepala Dusun), RW, dan RT  harus aktif mengumpulkan warga, memasuki rumah warga satu-persatu, kemudian baru bisa melakukan kegiatan setelah melakukan pertemuan dengan beberapa elemen masyarakatnya. Begitu juga jika ada usulan dari masyrakat, Perangkat desa khususnya RT orang yang sering disuruh-suruh warga untuk mengeksekusinya.

Dalam beberapa kegiatan tidak jarang Rasyo harus mengeluarkan uang (nombok) dari kantong pribadinya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada di desa. Sosoknya yang lantang dalam mengeluarkan pendapat serta seringnya mengeluarkan uang pribadi dalam berbagai macam kegiatan di masyarakat, menjadikan Rasyo salah satu orang yang paling berpengaruh di Desa ini. Jangankan Paijo yang juga menjadi Ketua RT sebalah, sekelas Kepala Desa maupun DPRD Kabupaten yang masih menjabat, juga menghargai setiap omongan dari si Rasyo.

Bagi Suraji warga yang satu RT dengan Rasyo, tidak ada orang yang bisa menggantikan Rasyo sebagai Ketua RT. “Menjadi ketua RT  berarti menjadi pekerja yang mengabdi kepada masyarakat yang tidak dibayar, justru malah harus membayar... hahaha.” Becandanya.

Setiap kalimat itu dilontarkan selalu menjadi hal yang lucu, meskipun sering dilontarkan. Semakin lucu lagi ketika Rasyo menghampiri warganya di Pos Kampling setiap akan mengadakan kegiatan, yang dia prediksi pasti dananya akan kurang. Rasyo di prediksi akan mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Meskipun Paijo juga menjadi ketua RT, namun Paijo tidak sebanding dengan Rasyo. Sering Paijo bersembunyi dibalik ketiak Rasyo jika kegiatan yang berkaitan dengan Desa. Gaya kepemimpinan Paijo sebagai seorang RT lebih suka melimpahkan bebannya kepada yang lain. Begitu juga soal keuangan, Paijo tidak malu meminta iuran kepada masyarakat tanpa terkecuali. Tidak memperdulikan itu orang kaya atau kurang mampu, setiap keluarga dipatok dengan jumlah yang sama. Sedangkan Rasyo memiliki cara yang lebih bijaksana soal iuran untuk kebutuhan bersama, Rasyo meminta iuran hanya kepada orang-orang yang mampu atau kaya, tidak jarang dia meminta iuran yang sedikit lebih kepada orang yang kaya. Sementara untuk orang kurang mampu dia sama sekali tidak menarik iurang, hanya memberitahu terkait kegiatan yang akan dilaksanakan dan meminta warga tersebut untuk datang meramaikan. Hal itulah yang menjadikan sosok Rasyo dihormati oleh warganya. Bahkan Rasyo diminta untuk menjadi RT dan merangkap di dua wilayah, karena warga di wilayah RT tempat Paijo banyak yang tidak suka dengan cara kepemimpinannya. Banyak yang menasihati Paijo jika menjadi RT harus begini-begitu. Paijo maupun Rasyo  sebenarnya sudah tidak ingin menjadi RT, tetapi tidak ada yang mau menggantikan mereka.

***
“Kenapa bapak belum tidur?” Tanya Yati, istri Rasyo.

“Belum ngantuk kok.” Jawab Rasyo.

“Kenapa? Soal cairan politik lagi, ya?”

“Sudah, Kamu tidak usah ikut campur!” Balas Rasyo sambil beranjak pergi dari tempat tidur dan mengambil rokok.

“Terserah kamu sajalah, Pak.” Yati menjawab sambil menarik selimutnya untuk tidur.

Istri Rasyo sebenarnya tidak suka suaminya terlibat dalam urusan poitik. Hampir setiap kontestasi politik membuat dirinya khawatir terhadapnya. Bayang-bayang suaminya tidak kembali ke rumah selalu mengahampiri pikirannya. Ketika suaminya pergi sampai larut malam di waktu-waktu menjelang kontestasi politik seperti sekarang ini, adalah hal yang manakutkan bagi Yati. Ketakutan Yati bukan tanpa sebab, pengalaman Rasyo yang pulang ketika dini hari dengan kepala berdarah dan beberapa lebam di tubuh suaminya itu menjadikan ia sedih dan takut. Namun, Yati masih bersyukur suaminya masih dapat kembali ke rumah. Beberapa teman Rasyo ada yang masuk ke rumah Sakit dan diantaranya juga ada yang hilang tanpa kabar tidak pernah kembali ke rumah. Protes dan perlawanan Rasyo bersama kawan-kawannya pada Rezim Orde Baru menjadi kenangan yang buruk bagi Yati. Meskipun Yati sadar apa yang diperjuangakan oleh sang Suami adalah hal yang benar dan bermanfaat untuk masyarakat.

Yati menjadi seorang yang sabar dalam menghadapi Rasyo. Dirinya mendapingi Rasyo sejak jaman perkuliahan dulu. Berawal dari organisasi yang sama, mereka sering berdiskusi terkait ketidakadilan yang ada di negeri ini. Berfikir untuk membuka kran-kran demokrasi selebar-lebarnya. Dengan beberapa kesamaan pandangan dan seringnya bertemu menjadikan rasa cinta tumbuh di antara mereka. Setelah menikah dan mempunyai keturunan, idealisme Yati mulai mengikis, dia sadar bahwa lebih penting masa depan keluarga. Tetapi ia tetap menghargai perjuangan suaminya untuk meruntuhkan rezim otoriter Soeharto. Yati mengijinkan suaminya terus berjuang dengan catatan bahwa tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.  Dia pikir setelah runtuhnya Soeharto pada tahun 1998, sang suami akan menjadi kepala keluarga pada umumnya. Bekerja pagi sampai siang, kemudian pulang dengan tenang. Di akhir pekan ia dan sang suami dapat banyak waktu yang longgar untuk liburan. Di sore hari mereka dapat bercerita panjang lebar di belakang rumah, sambil minum teh dan melihat pohon anggur yang mereka tanam. Itu yang menyebabkan Yati meminta sang suami untuk pindah rumah dari Yogyakarta ke Desa Gedong yang ada di Jawa Tengah. Dengan harapan setelah runtuhnya Soeharto, cita-cita sang suami sudah terwujud. Yati berusaha menjauhkan sang suami dengan rekan-rekannya di Yogyakarta atau pun yang ada di Jakarta. Di Desa Gedong yang pelosok jelas akan menyulitkan akses Rasyo dengan orang-orang politik. Namun, apa yang diperkirakan Yati ternyata salah, Rasyo tetap menjadi orang yang keras kepala. Setelah menetap di Desa dia masih saja terlibat dengan urusan politik.

Yati sebenarnya menyadari bahwa semakin hari demokrasi di tanah air ini semakin tidak baik. Pengalaman serta logika yang didapat dari organisasi menjadikan Yati peka terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi sang suami. Tidak jarang dia memberikan nasihat-nasihat dalam mengambil keputusan politik yang dilakukan suaminya. Bagi orang yang tidak berhadapan langsung dengan politik namun mengerti terkait politik menjadikan keputusan-keputasan yang diambil lebih bijak. Kondisi demokrasi yang semakin buruklah, yang menjadikan dia berfikir bahwa suaminya harus menjauh dari lingkungan politik. Yati mengikuti perkembangan politik yang hanya menggunakan semangat perjuangan sampai sekarang yang ia anggap merusak demokrasi, yaitu “Politik Uang”. Sangat sulit bagi Yati bisa berfikir positif terkait politik sekarang, baginya politik selalu berkaitan dengan ancaman dan kebencian serta hidup dilingkaran uang haram.

“Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutanpun hidup”, ungkapan Rasyo yang kemudian meninggalkan istrinya yang sedang menarik selimut akan tidur.

Hidup itu seperti sebuah lilin, meskipun kecil dia memiliki cahaya sendiri dan mampu menyinari ditengah kegelapan. Rasyo dalam hidupnya menerapkan nasihat dari neneknya.  Meskipun dia berada di Desa yang terpencil, dia berharap dirinya dapat bermanfaat bagi linkungan sekitarnya. Inilah yang menjadikan dia rela menjadi Ketua RT. Jabatan yang tidak diinginkan masyarakat sekitar karena megeluarkan banyak tenaga. Namun bagi Rasyo, kepercayaan masyarakat terhadap dirinya merupakan amanah yang harus dijalankan.

Politik menjadi suatu alat yang digunakan untuk kemakmuran masyarakat. Buta politik bagi Rasyo menjadi sesuatu yang membahayakan, karena segala kebijakan menyangkut kesehatan dan kesejahteraan ditentukan melalui proses-proses politik. Itulah yang melandasi Rasyo ikut andil dalam penentuan kepala desa sampai penentuan wakil Rakyat. Dia sadar bahwa penggunaan uang dalam mensukseskan kandidatnya merupakan hal yang buruk. Istrinya sudah berulang kali memperingatkannya. Tetapi seperti tidak ada jalan lain mengingat kondisi masyarakat terlena oleh kebiasaan-kebiasaan warisan orde Baru. Selain memiliki kualitas yang bagus, kandidat yang diperjuangkan oleh Rasyo harus memiliki visi-misi serta ideologi yang sepaham dengannya. Tentu sang kandidat juga harus memiliki cukup finansial.

Acaman yang cukup nyata bagi masyarakat adalah lahirnya juragan, yaitu pemimpin yang menjadi kandidat adalah pengusaha atau orang kaya yang mengejar jabatan hanya untuk kepentingan bisnis.
“Idealismemu jangan sampai terbeli oleh uang, Pak.” Ketus sang istri.

Rasyo tidak dapat menjawab pertanyaan sang istri, kerana pasti jawabannya akan menimbulkan perdabatan panjang. Karena hal itu juga pernah di bahasnya. Rasyo berpegang teguh pada falsafah Sunan Kalijaga, “Angeli nanging ora melu keli (mengikuti arus tetapi tidak terbawa arus)”. Apa yang dilakukan Rasyo seperti hal tersebut, mengikuti arus atau budaya yang ada di masyarakat. Namun jika masyarakat memahami politik menjual pilihannya kepada peserta pemilihan  hanya karena uang. Tapi cara pandang Rasyo sedikit berbeda, uang menjadi salah satu logistik untuk membangun gerakan di masyarakat.

Tidak setiap pemilu Rasyo mencairkan uang politik untuk seiap orang. Seperti pemilihan Presiden atau Pemilihan Gubernur, Rasyo tidak membagi uang. Sirkulasi cairan politik dalam pilihan itu hanya berasal dari donatur tertentu. Biasanya hanya diterima oleh tim pemenangan atau penggerak pemilih saja. Uang yang diterimapun tidak begitu banyak, biasanya hanya cukup untuk digunakan sebagai transportasi masing-masing orang dalam tim.

Seperti dalam pemilhan presiden dan gubernur terakhir, Rasyo tidak mendapatkan cairan politik dari sang kandidat. Dia justru mengeluarkan uang pribadinya untuk mensukseksan pilihannya. Uang yang dia keluarkan digunakan untuk membeli kopi dan rokok. Rasyo bergerilya dari desa ke desa menemui warga dan menyalurkan pemikirannya. Setiap kesempatan bertemu dengan banyak orang Rasyo selalu mensosialisasikan pilihannya. Ruang-ruang lain yang sering digunakan untuk sosialisasi adalah Pos Kampling dan ruang santai seperti warung kopi. Dalam gerilyanya Rasyo sering membelikan warga kopi, dan meninggalkan rokok ketika setelah berdiskusi akan pergi. Bagi dia ruang diskusi selalu membutuhkan kopi dan rokok. Pengalaman Rasyo selama kuliah menjadikan dia dengan mudah diterima masyarakat dan dapat mempengaruhi pemikiran orang di masyarakat.

“Dia adalah teman saya, sahabat saya, dan rekam jejak dia selama mahasiswa bagus.” Ungkap Rasyo di warung kopi ketika mempromosikan Gubernur pilihannya.

Padahal Rasyo tidak mengenal dia, dan tidak pernah bertemu dengan calon gubernur itu. Hanya karena dia satu almamater dengan Rasyo, dan ketidaksukaan sikap Rasyo dengan Gubernur sebelumnya yang anti kritik.

“Lah, gimana bos, ada cairannya tidak kalau kita memilih gubernut itu?” Tanya salah satu warga kepada Rasyo.

“Kalau gubernur harus memberikan cairan politik kepada tiap orang, duitnya gak akan cukup. Jumlah satu provinsi kan banyak. Hahaha...” Jawabnya dengan becanda untuk mencairkan suasana.
Apa yang dilakukan Rasyo secara tidak langsung berdampak besar. Seorang gubernur petahana  dan didukung banyak partai hanya mendapat suara sedikit di kecamatan Rasyo. Kemenangan Gubernur baru yang belum diketahui kerjanya  oleh masyarakat, menaikkan pandangan masyarakat terhadap Rasyo. Masyarakat meyakini bahwa Rasyo orang yang cukup berpengaruh. Hasil suara yang lumayan banyak didapat oleh sang Gubernur, juga mengagetkan masyarakat. Ternyata Rasyo diketahui melakukan door to door atau bersosialisasi dengan memasuki satu persatu rumah warga.  Para warga bercerita setelah perhitungan surat suara.

Setelah sang Gubernur menjabat, hasilnya tidak mengecewakan Rasyo. Banyak liputan positif dan pujian dari orang-orang disekitarnya. Penilaian warga desa Gedong terkait kepemimpinan dilihat dari infrastruktur yang ada. Selama  jalan yang ada di sekitarnya bagus, itu berarti dia bagus dalam memimpin. Seperti yang terjadi pada tataran kebupaten, istri mantan Bupati yang terkena kasus  korupsi dapat melaju dengan lancar menjadi Bupati selanjutnya. Karena meskipun tertangkap KPK (komisi pemberantasan korupsi), selama menjabat jalan-jalan yang penghubung antar kecamatan bagus. Opini yang berkembang  yaitu tidak masalah istri seorang koruptor, yang terpenting korupsinya juga untuk kebaikan masyarakat terutama jalanannya bagus.

Yang terjadi ketika pimilihan gubernur yang kedua lebih mudah, sang Gubernur yang dianggap Rasyo rekan dekatnya padahal tidak pernah bertemu. Sebagai petahana dan memiliki kinerja bagus, lebih mudah dalam proses mensukseskannya. Banyaknya capaian yang telah berhasil dilakukan sang dukungannya itu, Rasyo merasa terpanggil kembali untuk membantunya. Namun hal sebaliknya dilakukan oleh Zaenuri, Warga desa Gedong yang satu RT dengan Paijo.

Zaenuri seorang pedagang sayur keliling. Pada pemilihan Gubernur terakhir tidak lagi sepemikiran dengan Rasyo. Tawaran membantu mensukseskan calon Gubernur yang bersebrangan dengan calon yang didukung Rasyo. Secara rekam jejak atau progam sang colon, Zaenuri tidak begitu mengetahuinya. Tawaran yang menarik dan bayaran yang akan didapat jika menjadi tim sukses menarik hatinya. Zaernuri berpandangan politik juga bisa menjadi bisnis yang menguntungkan untuknya selain menjadi tukang sayur. Mungkin dengan banyaknya kenalan orang yang ada di pemerintahan suatu saat anaknya bisa dipermudah mendapat pekerjaan di lingkungan pemerintah.
Zaenuri tahu bahwa nanti pasti akan berbenturan dengan Rasyo, sehingga sebelum dia bergerak lebih jauh, dia berusaha menghubungi Rasyo untuk menghindari konflik yang panjang. Urusan berbedaan pilihan politik di warga Desa Gedong merupakan hal yang lumrah. Namun silaturahmi, dan komunikasi tetap berjalan. Warga menjunjung tinggi persaudaraan dibandingkan urusan kekuasaan dan kepentingan.

“Bos, gimana calonmu, bisa cair tidak?” Tanya Zaenuri kepada Rasyo.

“Ya, seperti sebelumnya ‘lah.” Tegas Rasyo.

“Aku diajak juga ini, ada cairannya.”

“Dari siapa?”

“Yang baru, lawan yang panjenengan dukung dulu.”

“Kalau aku tetap pada pilihanku yang dulu, hasilnya sudah jelas.”

“Tapi yang nawarin aku, siap memberikan.” Tambah Zaenuri dengan menunjukan telapak tangan dan menggerakan 5 jarinya.

“Dia bersama lingkaran agama yang punya banyak basis di tempat kita, kemungkinan tidak mungkin bisa segitu, dan kamu orang baru, kemungkinan di lingkaran ketiga. Pasti di prioritaskan untuk lingkaran keagamaan dulu.” Ucap Rasyo menasihati Zaenuri.

“Kalau tidak dapat 50 ribu, ya kalau 20 ribu lumayanlah untuk jika dikumpulkan untuk iuran perbaikan pos Kampling.”

“Ya silahkan, tapi peluang dia terpilihnya juga sulit Zen. Kinerja jagoanku bagus,,, hehehe.” Jawab Rasyo dengan santai. Dia meyakini bahwa Zaenuri sangat tidak mungkin dapat cairan, karena cakupan wilayah dan banyaknya orang.

“Siap, bos. Berarti kita bersaing,,, hehehe.”

“Siap. Yang kalah jangan nangis, ya.” Candaan Rasyo untuk mencairkan suasana.

“Nanti kalau yang tempatku cair, gantian saya kasih, Bos.”

“Paling cair dalam bentuk kaos.”

“Ya, lumayan, buat di kebun, hahaha.”

***
Satu hari menjelang hari pemilihan Gubernur, sebagai seorang RT Rasyo menyipkan berbagai macam perlengkapan untuk acara Pemilu esok hari. Mengorganisir beberapa warganya untuk memasang tenda, dan menyuruh anak-anak muda untuk mengambil meja dan kursi. Sebenarnya yang lebih pantas untuk mengorganisir adalah RW. Namun usianya yang masih bisa dibilang muda dan tidak begitu ramah dengan warga. Menjadi sulit jika dia harus mengorganisir, Rasyo menjadi tempat dia mengadu jika harus bersentuhan dengan masyarakat. Rasyo enggan menolak setiap dimintai tolong, karena dia sadar bagaimana kapasitas si RW, dan dia juga dulu yang menjadikannya sebagai seorang RW. Rasyo juga dulu memberikan janji akan siap membantu jika dia menjadi RW.

Di tengah-tengah kesibukan warga menata tempat untuk Pemilu, terlihat Zaenuri lewat dengan mengendarai sepeda motor. Karena lokasi tempat pemilu berada di pinggir jalan persis. Semua orang yang lewat akan sangat jelas telihat. Jalanan yang ada disitu sedikit rusak, banyak kerikil dari bekas aspal yang sudah lama. Sehingga setiap warga yang melewati jalan tersebut harus berjalan dengan pelan-pelan karena rawan jatuh tergelincir oleh batu kerikil. Kondisi yang mengharuskan untuk berjalan dengan pelan, menjadikan ekspresi dari setiap pengendara motor yang lewat akan terlihat jelas. Begitu juga ekpresi Zaenuri yang terlihat sumringah tersenyum lebar melihat beberapa warga yang sedang sibuk dengan tugasnya menatap tempat pemilu.

Beberapa jam kemudian  Zaenuri melaju dengan kencang melewati jalan terjal dengan wajah panik. Dia hanya membunyiklan klakson “Tin” melewati sekerumunan orang yang sedang beristirahat setelah memasang tenda. “kraak krakk kraaakk” bunyi kerikil yang terpental akibat terlindas roda ban motor yang sangat cepat.

“Alonnnn, Kang!” Teriak Suraji kepada Zaenuri karena khawatir jatuh.

“Wah, Bos, ini gimana, Bos. Bahaya jalanan kita ini, coba usulkan ke Gubernur, Bos.” Ungkap Suraji kepada Rasyo.

“Usulkan bagaimana, Ji?” Balas Rasyo.

“Ya, usul. Sampean ‘kan yang deket dan kenal Gubernur. Kita siap memenangkan tapi perbaiki jalan kita begitu.”

“Lah, ini jalan apa, Ji?”

“Jalan aspal yang rusak, Bos?”

“Ya, aku tahu, ini jalan desa atau jalan provinsi?”

“Ini jalan desa, Bos, Terus?”

“Ini jalan desa, jadi wewenangnya adalah kepala desa. Bisa diperbaiki dengan menggunakan dana desa.”

“Tapi ini sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki, Bos.”

“Ya sabar dulu, karena desa kita luas. Terdiri dari 14 dusun, jadi kita harus berbagi anggaran itu untuk dusun yang lebih prioritas.”

“Kenapa tidak pemekaran saja, Bos, supaya kita bisa dapat jatah dan bisa melakukan pembangunan dengan cepat? Seperti desa sebalah, yang beton jalannya sampai 15 cm blok. Tidak seperti tempat kita yang di beton hanya kanan dan kiri. Tengahnya kosong dan membahayakan.”

“Tumben cerdas, Ji. Hahahah. Ya, desa kita sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk pemekaran. Tapi, orang-orang yang ada di balai desa tidak mau mengurusnya.”

“Yaaa, aslinya saya cerdas, Bos, cuma kadang-kadang malas berfikir, hehe.”

***
Malam hari suasana pos kampling menjadi sepi. Keramaian berpindah pada tempat pemungutan suara. Para satpam dan petugas KPU yang menjaga kotak suara di temani oleh beberapa warga. Kekompakan warga desa sangat terlihat, dimana jika ada hajatan apapun di desa, pos kampling menjadi sepi. Warga memilih berkumpul bersama di tempat hajatan sekaligus menemani, mereka seolah bersiap diri jika suatu waktu diperlukan bantuannya.

Menjelang tengah malam beberapa orang sudah tertidur di kursi. Sebagian lagi ada yang duduk di meja. Sementara para saksi partai yang diberi tugas oleh partainya untuk ikut menjaga kotak suara sibuk bermain kartu bersama. Sangat menarik apa yang terjadi di desa, di mana mereka memilih tidur di tengah udara malam yang dingin bersama-sama dibandingkan tidur di Rumah mereka masing-masing. Mereka yang mendapatkan uang dari tugas mengurus pemilu, sebagian uang yang di dapat digunakan untuk membeli cemilan, rokok, dan kopi.

Sebenarnya masyarakat sudah meyakini dan menebak siapa yang bakal menjadi Gubernurnya. Dari media sosial dan pembangunan yang terjadi di Jawa Tengah sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun, dalam sebuah kehidupan masyarakat yang begitu banyak keinginannya tentu ada saja kekurangannya. Mungkin menjadi sebuah takdir dari setiap orang, bahwa ada yang membenci ada pula yang menyukainya. Banyak sekali variabel yang menentukan pilihan di masyarakat. Dalam menentukan calon Gubernur ini pilihan masyarakat juga tidak selalu obyektif. Beberapa yang memilih Gubernur bukan karena bagaimana kinerjanya. Tapi ada yang menentukan karena tertarik dan suka  dengan Rasyo, ada juga yang memilih karena membenci Rasyo dan apa yang didukung Rasyo. Jangankan Si Rasyo yang hanya manusia biasa.

Menjelang waktu subuh sebagian orang yang ada di tempat pemilihan sudah mulai berkurang. Mereka meninggalkan petugas KPU dengan berbagai alasan. Ada yang karena ingin adzan di Masjid. Ada yang ingin menjadi makmum sholat. Ada yang ingin menjadi karpet masjid. Ada yang ingin menjadi air wudlu. Padahal mereka terlihat di masjid hanya waktu hari jumat. Berbagai alasan tidak rasional digunakan sebagai sebuah ijin supaya tidak menyakiti perasaan orang yang ditinggalkan di tempat pemilihan.

Setelah berlangsung pemilihan Gubernur seharian, hasilnya di ketahui siapa yang terpilih dengan suara tinggi di tempat pemilihan. Menjadi ganjal setelah pemilihan  Zaenuri banyak dicari oleh beberapa orang. Dia hanya terlihat waktu akan mencoblos dan perhitungan hasil suara.

***
Rasyo pagi itu bangun lebih awal dari pada hari biasanya. Istrinya menyadari pasti ada permasalahan atau ada suatu hal yang menyebabkan sang suami bangun.

“Kenapa, Pak, kok sudah bangun?”

“Ini, Buk, uang belum cair. Padahal besok sudah pemilihan.”

“Sudah aku bilangin, ngapain ngurusin politik, Pak.”

“Kalau tidak ada yang ngarahin bisa salah orang yang jadi wakil kita.”

“Lah, kenapa harus selalu pakai duit, Pak?”

“Ya, duit juga ada tapi kapasitas juga harus ada. Tidak ada suatu gerakan tanpa ada logistik.”

Sang Istri karena tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan sang suami dia memilih beranjak bangun dari tempat tidur dan segera mengambil air wudlu.

Rasyo tidak menjelaskan ke istrinya bahwa cairan politik dari salah satu caleg akan ia gunakan untuk memperbaiki jalan desa yang rusak. Setelah minum kopi dan menghabiskan sebatang rokok, Rasyo menyalakan motornya, dia berencana menemui sang caleg.

“Mau kemana, Pak?” Teriak istrinya dari dapur.

“Sudahlah, urusan laki-laki ini. Perempuan masak saja yang enak.”

“Dipikir dulu, Pak, yang panjang sebelum bertindak.”

“Hemmmm, jangan ditambah racun ya, Sayangku, masakannya!”

“Apa sih pak, gak jelas bapak. Sana pergi, hati-hati, ‘ya!”

“Siap, Sayangku, Assalamualaikum!”

Tanpa menunggu balasan salam dari sang Istri, Rasyo mengendarai kendaraan dan pergi meninggalkannya.

Dalam perjalanan menuju rumah sang caleg, Rasyo berfikir dan berhitung. Dia menyiapkan apa saja yang nanti akan dibicarakan, dan berapa jumlah orang yang bisa diajak untuk mendukung sang caleg. Hitungan Rasyo bukan berdasarkan orang yang bisa dipengaruhinya terlebih dahulu. Tetapi berapa kisaran anggaran yang digunakan untuk memperbaiki jalan, kemudian di bagi dengan perkiraan jumlah nominal yang diterima oleh setiap orang. Kemudian dia akan dapat hasil jumlah orang yang harus dipengaruhinya. Rasyo menyiapkan taktik untuk mempengaruhi sang caleg.

Sesampainya di rumah caleg matahri sudah mulai memunculkan sinarnya. Meskipun belum terlalu cerah, langit kebiru-biruan dan udara yang dingin. Dari kejauhan sudah terlihat seseorang yang duduk di kursi depan rumah yang tidak berpagar. Nampak sang caleg yang dulu pernah menemui Rasyo dan memintanya bantuan. Semakin kendaraannya mendekati rumah sang caleg, terlihat bahwa dia duduk tidak seorang diri. Ada dua orang yang ada  di sebelah kananya, karena sang caleg duduk di paling pojok kiri.  Dari kejauhan Rosyo melihat raut wajah yang lesu dan mata merah namun tetap melempar senyum. Rasyo memarkirkan kendarannya tepat di samping rumahnya.

“Assalamualaikum, Pak Caleg!” Ungkap Rasyo sambil bergerak menyalami orang-orang yang ada di situ.

“Wa alaikum salam. Monggo, Pak Rasyo!” Sang caleg berdiri dan menyalami Rasyo.
Kemudian mereka duduk kembali, posisi Rasyo menghadap tiga orang.
Pripun kabare, Pak?

“Alhamdulillah baik, Pak Ras.”

“Kok matanya merah, Pak, belum tidur panjenengan?”

“Bagaimana bisa tidur, Pak, kondisinya lagi seperti ini.”

Sang caleg sepertinya sudah tahu maksud dari kedatangan Rasyo pasti ingin menanyakan terkait cairan politik. Sebelum Rasyo membicarakan tujuannya datang, si caleg sudah memberikan banyak penjelasan.

“Begini pak Rasyo, apa yang panjenengan minta dulu belum bisa saya kabulkan semua. Saya salah perhitungan, jadi menimbulkan dampak pada perekonomian saya yang kurang baik. Saya hanya bisa membantu tapi tidak seberapa.” Sang caleg mengambil uangnya yang ada sakunya dan langsung memberikannya kepada Rasyo. Seolah uang tersebut sudah dipersiapkan sejak awal. “Saya sebenarnya sudah menunggu panjenengan sejak kemarin, Pak Ras. Tapi kok sayangnya panjenengan baru datang sekarang. Kemarin ada banyak sekali tambahan yang tidak bisa saya tahan. Saya minta maaf sama panjenengan dan minta tolong dengan sangat bantuan yang maksimal dari panjenengan.” Ungkap caleg sambil memberikan uang kepada Rasyo.

Rasyo paham bagaimana kondisi psikologis yang sedang dialami orang yang akan dibelanya tersebut. Tanpa pikir panjang dan menghitung jumlah uangnya Rasyo langsung menerimnya. Kemudian berkata.

“Pak, ini uang panjenengan akan saya gunakan untuk memebangun jalan depan tempat pemungutan suara yang rusak.”

“Monggo, Pak Ras, saya percayakan semuanya sama panjenengan.”

Setelah sedikit cerita kurang lebih setengah jam, Rasyo kemudian balik kerumahnya untuk menentukan strategi yang akan digunakan. Sebelum sampai di rumahnya, Rasyo menghampiri Suraji di rumahnya. Rasyo menyampaikan bahwa uang yang diterimanya sekarang jauh dari target, jika digunakan untuk membangun jalan sangat kurang. Jika dibagi jumlah orang yang biasa mengikuti arah politik Rasyo, satu orang mendapat uang dengan nominal yang hanya cukup digunakan untuk membayar parkir atau membayar buang air kecil di WC umum.

“Ji, ini uangnya hanya cair segini. kamu pegang, ya!”

“Wah, Bos, kok sedikit banget ini?”

“Sumbangin saja ke masjid, dan bilang ke orang-orang kita bahwa uangnya cair. Tetapi sudah disumbangin ke masjid”

“Siap, Bos.”

“Hembuskan isu, yang tidak menerima uang dariku. Sudah memiliki amal untuk akhirat nanti.”
Selama seharian Rasyo dicari-cari banyak orang yang meminta cairan politik. Bahkan sampai beberapa detik setelah perthitungan suara selesai. Ada orang yang masih minta uang di Rasyo dengan alasan, “Saya sudah mendukung jagoanmu, mana cairannya?”. Rasyo melihat siapa yang beralasan seperti itu, jika yang berbicara tersebut orang tua dengan usia diatas 50 tahun. Rasyo akan merogoh kantong pribadinya sebagai amal. Tetapi jika yang meminta masih muda sampai kepala empat dia akan menjelaskan cairnya sudah menjadi amal yang bisa diambil di akhirt kelak.

Rasa kecewa dan marah menyelimuti hari Rasyo. Calon yang dia dukung  tidak berhasil duduk menjadi wakilnya. Rasyo juga kecewa dengan warga sekitar yang dengan mudah pindah halauan pilihannya hanya karena uang. Semua tidak sesuai dengan harapannya. Rasyo merasa gagal karena transformasi pemikirannya tidak bisa merasuk warga yang lain. Tapi Rasyo tetap lapang dada bahwa dan menghargai bahwa ini merupakan suatu ‘Demokrasi’ di desa ini. Di mana untuk pemilihan legislatif yang memberikan uang lebih diminati dibandingkan dengan yang memberikan visi dan misi.

Seminggu setelah pemilu, Zaenuri bertemu dengan warga yang sedang ramai berkumpul di Poskampling.

“Wah bos datang, banyak uang ini sepertinya. Kemarin jagonya dapat suara banyak.” celoteh Suraji menyindir Zaenuri.

“Itu lho, bos Rasyo, tenang-tenang saja yang sedang banyak duit.”

“Wah bos Rasyo kalau sekarang sedang tidak mekar. Hahaha”
Rasyo tersenyum dan membalas, “Kacau sekarang, kalau gak ada cairan gak bisa berhasil jadi dewan.”

“Lah, gimana lagi, Bos, memperjuangkan caleg itu seperti mendorong mobil mogok. Kita bersusah-susah mendorong. Setelah berhasil hidup, mobilnya ninggalin kita. Hahaha.” Canda Suraji, sambil merangkul Rasyo.

Zaenuri kemudian duduk dan menepuk jidat sambil berkata, “Aku ini pemilu bukanya untung malah rugi. Kemarin Gubernur disuruh pakai uangku dulu untuk kegiatan macem-macem malah tidak diganti. Yang kemarin caleg jagoku uangnya habis dimintain orang. Rugi bensin aku.”

“Hahaha... Kalau kamu, Zen, bukan lagi diibaratkan mendorong mobil mogok. Tapi mendorong mobil mogok di tanjakan, gak jalan maju malah justru mundur nabrak yang mendorong”. Ledek Suraji yang membuat semua orang tertawa termasuk Zaenuri.

Mendengar percakapan itu Rasyo baru teringat omongan sang istri, bahwa kebiasaan politik uang itu akan menimbulkan permasalahan. Cairan politik memberikan efek domino atau berkelanjutan di setiap lini kehidupan. Politik uang harus dirubah di masyarakat, karena jika diterus-teruskan akan menjadi sebuah kebiasaan buruk yang dilanggengkan. Sang Istri juga pernah berpesan Jawa Tengah dengan karakteristik Jawa yang halus bisa menjadi contoh untuk membangun politik yang baik. ‘Cairan politik’ harus digantikan dengan ‘Serapan Politik’ yang berarti bahwa masyarakat tidak menunggu uang dari caleg tetapi apa yang sudah dilakukan oleh sang caleg. Rasyo baru menyadari bahwa  nasehat sang istri beberapa tahun yang lalu memang benar. Keberhasilan seorang suami juga tidak bisa terlepas dari sang istri. Perasaan yang sensitif dari seorang perempuan dan logika rasional yang dimiliki seorang laki-laki jika dapat dipertemukan menjadi sebuah keselarasan untuk membangun kehidupan.


*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya dan Media.

COMMENTS

Name

BANDONGAN,43,FABEL,17,HIKAYAT,34,Impresi,11,Kajian,13,Maklumat,10,Ngaji Jumat,21,PUISI,128,Risalah,9,SOROGAN,194,ULASAN,15,
ltr
item
wacanbuku: Cairan Politik
Cairan Politik
Cairan Politik
https://1.bp.blogspot.com/-Si6CT0Tsfy0/Xe9RU5Z_9dI/AAAAAAAAKtQ/P1SGXKf6ZGEk5G1REPxANDKuKaPcX_9YgCLcBGAsYHQ/s320/Iman.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Si6CT0Tsfy0/Xe9RU5Z_9dI/AAAAAAAAKtQ/P1SGXKf6ZGEk5G1REPxANDKuKaPcX_9YgCLcBGAsYHQ/s72-c/Iman.jpg
wacanbuku
http://www.wacanbuku.com/2019/12/cairan-politik.html
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/2019/12/cairan-politik.html
true
7620921742776894578
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy