'cookieChoices = {};'

Tali Generasi; Refleksi Dirgahayu Republik

Tali Generasi; Refleksi Dirgahayu Republik

Gambar : www.pinterest.com

(Playmaker Sepak Bola yang Tertunda)

Dalam tiap-tiap macam perjuangan, inisiatif mempunyai nilai besar. Mereka yang lebih dulu mengambil inisiatif, mempunyai keuntungan besar yang tak terduga dari lawannya. Sebab ia lebih dahulu melancarkan aksi dan dengan demikian dapat menimbulkan keadaan yang sama sekali baru di pihak lawannya. (Tan Malaka, Naar de ‘Republiek Indonesia’, 1925)

2018 dan 2019 menjadi pasangan tahun yang krusial dari rentetan tahun-tahun harapan Indonesia. Amati saja, mulai dari perhelatan luar biasa Asian Games, sampai perayaan yang biasa-biasa saja–Pilkada, Pileg, dan Pilpres. Meski berbeda lokusnya, setajam mata penulis sebagai pemuda, dua-duanya memiliki tugas yang sama, yakni yang satu berkait dengan mentalitas juara atlet muda Bangsa Indonesia; yang satunya lagi sebagai pembuktian sejauh mana kedewasaan para negarawan untuk mempersiapkan generasi.

Dalam spektrum yang lebih kecil, yakni bulan, tampaknya bulan Agustus musti menjadi dasar sebelum terjun indept ke dua arena panas yang sangat kompetitif itu. Kenapa? Ya sebab bulan Agustus mengandung banyak vitamin berguna, mulai dari Hari Proklamasi Kemerdekaan yang menguras pikiran ke 73 tahun silam, sampai Hari Pramuka yang mengingatkan penulis pada pengalaman masa sekolah. Dan pada intinya, tulisan ini akan belajar dari kejadian itu. Terkhusus bagi ikatan generasi pemuda, penulis tertarik untuk memberi catatan sedikit, sebab itulah kunci di balik segala rentetan hari besar kita. Ingat proses saat Soekarni dkk membawa Soekarno dkk ke Rengasdengklok, kan?

Sebelum lanjut ke tulisan inti, penulis ingin mengutip kata-kata mutiara, syukur-syukur bisa menjadi inspirasi linimasa. Sejarah merupakan cermin paling jernih, referensi terpercaya untuk suatu perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik (Joesoef Isak, 1995). Nada Joesoef yang tegas seakan turut membisikkan: jangan ada disupsi antara kita dan masa lalu. Konteks ini, penulis belajar dari Hari Proklamasi Kemerdekaan, dan fokus pada satu nilai: membumi. Kemudian ada quote lagi dari legenda terbaik sepak bola –setidaknya bagi penulis. Menyia-nyiakan orang dan berpikir kita selalu bisa kembali mengandalkan mereka selagi mereka mendekati akhir karier itu salah (Sir Alex Ferguson, 2013). Perkataan itu membuat penulis harus mengapresiasi bahkan menangis bangga atas fakta, bahwa para pemudalah yang menginisiasi–dalam arti seperti penegasan Tan Malaka di awal tulisan ini–segala kejadian bersejarah tersebut. Semacam playmaker, pemuda selalu melakukan gerakan lincah dan penetrasi yang istimewa ke jantung permainan sepak bola, indah.

Lha, dari paragraf di atas penulis mendapat satu isi tulisan penting, yakni mengembalikan pemuda–secara mentalitas–ke zaman dulu, saat para pemuda yang kebanyakan dari asrama Menteng 31 membumikan idenya: Indonesia kudu merdeka; dan membuat generation chain atau semacam tali pengikat identitas kepemudaan sebagai pondasi kemajuan. Kesemuanya itu mengarah pada frame “panggilan kebudayaan”. Apa itu?

Seymour Martin Lipset mengingatkan peran kebudayaan ini dengan menegaskan, bahwa tugas demikian berarti “menciptakan, mendistribusikan, dan kemudian menerapkan kebudayaan”. Lebih sharih lagi, Eisenstadt menjelaskan pergulatan pemuda di ranah kebudayaan ini dengan menegaskan: “...itu mengacu pada seperangkat norma dan orientasi yang bertindak, dan dengan demikian mereka adalah aktor-aktor yang terikat pada konteks, dan pada tradisi yang trans-historis, serta merupakan reservoir pengalaman sosial dan budaya.”. ini penting –bagi penulis.

Bagaimanapun penulis ini khawatir jika saja penguatan identitas berbangsa ini tidak dibarengi dengan memperkental darah merah asli Indonesia, terutama di sektor dakwah atau komunikasi ke bawah. Sekali lagi, ini penting. Selain Karl Mannheim yang menulis tentang generasi, Kiai Wahid Hasyim pun juga sangat khawatir jika nalar pemuda yang aktiv itu tidak menyentuh basis perubahan sosial –tidak common sense katanya. Kalau Ben Anderson ya menyebut itu sebagai “krisis politiko-kultural”. Y.B. Mangunwijaya (1984) bahkan menyebut mereka itu “...teralienasi dari lingkungan budaya masyarakatnya.”

Setelah masalah di atas kelar, kemudian yang bisa dilakukan secepatnya yakni membuat semacam roadmap bersama mengenai narasi besar pemuda pada generasi ini –generasinya sendiri. Tentu tidak semua harus berkutat pada job yang sama. Justru mereka harus berdiaspora, seperti dalam sepak bola: dalam tim, 11 pemain harus memiliki karakter dan gaya berbeda, tetapi musti pada instruksi pelatih. Terkait ini, perlu tak sampaikan, penulis sangat suka Sir Alex Ferguson, sosok manajer terbaik, maka penulis mengandaikan begini: anggap saja kita sudah dapatkan narasi kepemudaan –penulis memberi saran, tali itu bernama “generasi” dalam makna seperti Mannheim dan tokoh besar menguraikan– maka selanjutnya tinggal para negarawan (manajer) musti memantau dan mendampingi serta memajukan generasi (pemain) itu lewat bantuan asisten-asisten (pihak ketiga, seperti lembaga kepemudaan dan akademisi). Dengan demikian, sebuah sistem yang dijalankan oleh narasi ‘progresifitas generasi’ pun tercipta.

Akhirnya, penulis teringat kembali apa yang dikatakan oleh Mannheim tentang generasi, “...sebentuk identitas kolektif yang tumbuh dari seperangkat pengalaman bersama, yang menyebabkan timbulnya suatu identitas tanggapan, yakni suatu afinitas tertentu yang dengannya semua bergerak dengan dan terbentuk oleh pengalaman bersama mereka.”

Mari Berbareng Bergerak. Yang Muda Yang Lincah.

Ferhadz Ammar Muhammad
Pascasarjana Airlangga

COMMENTS

Name

BANDONGAN,36,FABEL,17,HIKAYAT,32,Impresi,9,Kajian,11,Maklumat,10,Ngaji Jumat,19,PUISI,92,Risalah,6,SOROGAN,141,
ltr
item
wacanbuku: Tali Generasi; Refleksi Dirgahayu Republik
Tali Generasi; Refleksi Dirgahayu Republik
Tali Generasi; Refleksi Dirgahayu Republik
https://3.bp.blogspot.com/-cptrmGgtt3Y/W3Zzf8pWvzI/AAAAAAAAKP8/vGX4MqHuL3cSz06nk_3FCeHJp7DdHgkwACLcBGAs/s320/414c7c8aabcd1b7c9100b1ccd12e0e2e.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-cptrmGgtt3Y/W3Zzf8pWvzI/AAAAAAAAKP8/vGX4MqHuL3cSz06nk_3FCeHJp7DdHgkwACLcBGAs/s72-c/414c7c8aabcd1b7c9100b1ccd12e0e2e.jpg
wacanbuku
http://www.wacanbuku.com/2018/08/tali-generasi-refleksi-dirgahayu.html
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/2018/08/tali-generasi-refleksi-dirgahayu.html
true
7620921742776894578
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy