'cookieChoices = {};'

Zikir Seorang Pemabuk

Zikir Seorang Pemabuk



Dalam sebuah perbincangan tidak jarang muncul beberapa obrolan yang sulit dilupakan. Siapa pun dia, seberapa pun daya ingat yang dimilikinya, dia pasti menglaminya. Demikian juga denganku, seolah tidak akan pernah bisa melupakannya. Kejadian itu bermula dari sebuah pertanyaan oleh seorang teman yang baru kukenal.

 “Apa kau pernah mendengar salah satu syair Omar Khayyam, penyair Parsi itu? Kira-kira begini; Garis hidupku adalah minum dan bersuka ria # Bebas dari percaya, dan ingkar adalah keyakinanku.”

Namanya sama persis dengan seorang tokoh yang dikaguminya. Ya, Abdul Rahman Wahid, seorang pemuka agama yang akrab dengan sapaan Gus Dur. Karena itu ia juga disapa Gus Dur oleh sebagian teman-temannya.

 “Apa maksudmu?” Jawabku, balik bertanya.

“Aku ingin kau tahu apa yang kuinginkan. Setidaknya, perkenalan kita tidak akan sia-sia jika kita tidak hanya saling mengenal nama, kau mengenaliku seutuhnya. Itu yang seharusnya terjadi dalam sebuah pertemanan.”

“Lantas, kau ingin melupakan segalanya seolah tidak pernah terjadi, dengan menenggak anggur sebanyak yang kau bisa, dan berpura-pura tidak mempercayai apa yang kau lihat.”

“Aku tidak ingin melupakan segalanya, juga tidak sedang atau ingin berpura-pura, apa pun yang terjadi. Bagiku kehidupan ini adalah fiksi. Jadi, apa guna berpura-pura pada sesuatu yang tidak nyata. Lagi pula, tidak ada salahnya sejenak melupakan hiruk-pikuk persoalan dengan berbagai cara, tentu saja agar kemudian muncul ide-ide dan imajinasi baru yang lebih segar.”


Obrolan itu terjadi saat kami berdua sedang dalam perjalanan pulang dari kampus. Waktu itu kami masih sebagai mahasiswa baru dan belum tahu seluk-beluk sistem di kampus itu. Di sepanjang jalan, dia berbicara lebih dari apa yang bisa kudengar.Tapi, bagaimanapun juga, aku tetap berpura-pura menjadi pendengar yang baik, sembari sesekali mengangguk meskiterkadang tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Dia memang suka bicara, namun terkadang seketika menjadi seorang pendiam hingga aku bosan menunggunya untuk berbicara. Dia betul-betul orang yang sulit ditebak, bahkan sejak awal aku mengenalnya, hingga sekarang. Jika ingin diam, dia diam saja. Jika dia ingin berbicara, siapa yang dapat mendengarnya.

Namun, aku mengerti mengapa dia melontarkan pertanyaan itu kepadaku, dengan sebuah syair; dia tahu aku menyukai syair-syair Omar Khayyam, Sang Pemabuk, atau Sang Penyair Anggur; dia menyukai sajak-sajak dan karya sastra lainnya, meski sampai saat ini tidak bisa menulis sastra; dia ingin menunjukkan dirinya kepada siapa saja bahwa hidup itu adalah rasa mabuk yang luar biasa, dengan kegilaan-kegilaan yang memilukan dan mengharukan. Aku tahu itu bukan berarti aku seorang psikolog, dukun atau seorang peramal, tapi karena aku tidak jarang bersamanya.


Seringkali dia melakukan kegilaan yang menurutku itu di luar kewajaran manusia, tidak manusiawi. Bagaimana tidak, waktu itu kami sedang beramai-ramai di sebuah beranda kontrakan dengan beberapa teman perantau lainnya. Tiba-tiba dia mendekatiku dan berbisik dengan suara yang begitu rendah, nyaris tanpa suara.

“Aku masuk dulu ke kamar, ingin mewawancarai Gus Dur. Tidak akan lama.”

“Gus Dur siapa?” Pikirku.

Kuperhatikan kamar itu tidak ada siapa-siapa, tak seorang pun yang masuk sejak sebelum temen-temen berkumpul. Beberapa jam kemudian, setelah teman-teman mulai kembali ke kosnya masing-masing, dia baru keluar dari kamar itu dan menyodorkan selembar kertas dengan beberapa baris tulisan.

“Itu hasil wawancaraku dengan beliau.” Kuterima saja kertas itu dan kubaca baris demi baris. Benar-benar di luar dugaan. Isi wawancara itu mengindikasikan bawa dia telah menemui tokoh yang bergelar “Sang Guru Bangsa” itu, yang telah meninggaldunia beberapa tahun lalu.


Entah bagaimana dia melakukannya, aku tidak melihatnya, pintunya tertutup dan tak secercah pun cahaya menyembul dari kamar itu. Namun, aku tetap membacanya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa pada diriku, karena begitulah cara dia mengaguminya. Dia melakukannya dengan segala cara, menghafal karya-karyanya, membaca pemikiran-pemikirannya, meniru gaya komunikasinya, gaya hidupnya. Dan dia melakukan semu itu dengan baik, bahkan tidak jarang dia mendapat sebutan “the next Gus Dur” dari teman-temannya.

Hanya saja, jika Sang Guru Bangsa itu mahir membobol hati perempuan dengan rayuan-rayuannya, namun tidak sama sekali dengan dia. Diaharus berkali-kali berupaya membobol hati seorang perempuan, dan berkali-kali pula dia tidak mendapat perhatian. Higga pada akhirnya dia harus terlunta-lunta dalam kesepian.



Hasan Pasean, Pengadum Ommar Khayyam.

COMMENTS

Name

BANDONGAN,43,FABEL,17,HIKAYAT,34,Impresi,11,Kajian,13,Maklumat,10,Ngaji Jumat,21,PUISI,128,Risalah,9,SOROGAN,194,ULASAN,15,
ltr
item
wacanbuku: Zikir Seorang Pemabuk
Zikir Seorang Pemabuk
Zikir Seorang Pemabuk
https://3.bp.blogspot.com/-M6G8JdlYTE4/Wt3KiybJeEI/AAAAAAAAJ8w/9T-0c4na51cGWlvdhm74um9iV3bXLW4xwCLcBGAs/s320/IMG_7992%255B1%255D.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-M6G8JdlYTE4/Wt3KiybJeEI/AAAAAAAAJ8w/9T-0c4na51cGWlvdhm74um9iV3bXLW4xwCLcBGAs/s72-c/IMG_7992%255B1%255D.JPG
wacanbuku
http://www.wacanbuku.com/2018/04/zikir-seorang-pemabuk_23.html
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/
http://www.wacanbuku.com/2018/04/zikir-seorang-pemabuk_23.html
true
7620921742776894578
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy