Saturday, April 14, 2018

Kami Memanggilnya Mahes

 
https://mewarnaigambar123.blogspot.co.id

Meskipun ini adalah salah satu kenangan yang memudar dalam kehidupanku hari ini, ada kalanya aku mengingat wajahnya dengan jelas, terutama matanya. Karena dia memiliki bintik-bintik kuning di matanya, kami memanggilnya Mahes.

Umurku tujuh tahun. Ayahku baru saja dipindahkan ke Temanggung. Kami telah pindah ke rumah kontrakan. Rumah itu dikelilingi oleh banyak semak-semak dan tanaman.


Aku keluar memandangi hujan, udaranya dingin hingga meraba-raba kulitku. Entah bagaimana di tengah malam aku mendengar suara keras di luar pintu utama. Mengumpulkan keberanian dan mengintip melalui jendela yang berdampingan dengan pintu. Aku benar-benar geli dengan apa yang ku lihat. 

Seekor anak kucing kecil tergeletak di atas semak-semak yang diletakkan ibuku di luar pintu. Basah dan menggigil. Memiliki tubuh hitam gelap, terdapat bintik-bintik kuning di matanya.

Ia mencoba masuk ke dalam karpet melengkung untuk menghindari udara dingin. Aku keluar membawakan handuk, mengusapnya hingga kering. Lalu, ku bawa masuk ke dalam rumah dan membuatkan tempat tidur untuknya. Ia tampak sangat nyaman di tempat tidur barunya.

Keesokan paginya, semua anggota keluarga tahu tentang kedatangan tamu kecil. "Haruskah kita merawatnya?" Aku bertanya pada ibuku.

Seperti orang tua lainnya, orang tuaku pertama-tama menolak, tetapi aku dan saudara perempuanku meyakinkan mereka untuk menjaganya. 

Perlahan kucing kecil itu mudah berbaur dan menjadi salah satu anggota keluarga. Hari berlalu dan suatu malam ketika Mahes kembali dari perjalanan panjangnya, dia tampak sangat kelelahan. Dia datang ke kamarku, aku melihat kaki belakangnya terluka dan berdarah. Aku memanggil ibu, lalu mengikatnya dengan perban di sekitar kakinya dan memberinya makanan.

Aku sangat kesal. Setelah kejadian ini hubunganku dengan Mahes menjadi lebih inten. Aku sangat mengagumi keberaniannya.

Pada suatu malam kami mendengar Mahes mengeong terengah-engah. Kami keluar dan melihat dia mengeong terus menuju suatu tempat.

Setelah beberapa waktu, aku mengelus punggungnya dan membawa masuk ke dalam. Pagi hari berikutnya, hatiku berdetak kencang ketika aku tidak melihat Mahes. Aku mencarinya di setiap sudut tetapi dia tidak ada di mana-mana. Dan kali ini dia telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Saya menangis dan menunggunya.

Kemudian suatu hari ayahku dipindahkan ke Jakarta. Apa yang akan terjadi pada Mahes? Ini adalah satu-satunya pertanyaan di benakku, tetapi itu semua tetap tidak akan terjawab.
Post a Comment